Red Crescent

Friday, 18 May 2012

Model-model Desain Pembelajaran (Model Dick, Carey & Carey, Model Rothwell & Kazanas, Model Smith & Ragan, Model KTSP)


Model-model Desain Pembelajaran

(Model Dick, Carey & Carey, Model Rothwell & Kazanas, Model Smith & Ragan, Model KTSP)


TUGAS KELOMPOK III
Disajikan Dalam Mata Kuliah Desain Pembelajaran





Oleh :
Andi Prabowo, S.Pd.
Fellicia Ayu Sekonda, S.Psi.

Kelas B/ Angkatan X

                               




MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
2012















PEMBAHASAN

A. Model Dick, Carey & Carey
1.      Hakekat Model Dick, Carey & Carey
Menurut Dewi Salma P (2008) Model dick and carey menekankan aspek revisi atau perbaikan pembelajaran yang menyuluruh dari PBM. Model Dick Carey and Carey adalah salah satu dari model prosedural
Manfaat model Prosedural
a.    Alur pelaksanaan model dilaksanakan jelas, biasanya arah diatur dengan symbol tanda panah (     ) garis putus-putus untuk umpan balik (-----)
b.    Setiap langkah jelas, sehingga mudah diikuti.
c.    Dengan keteraturan ini, maka terjadi efektifitas dan efesiensi pelaksanaan

2.      Komponen Desain Instruksional Model Dick, Carey & Carey
          
Model Dick – Carey tertuang dalam Bukunya The Systematic Design of Instruction edisi 6 tahun 2005. Perancangan Instruksional menurut sistem pendekatan model Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut.

Berikut adalah langkah pengembangan desain Instruksional menurut dick dan carey :


1) Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)).

Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar pebelajar dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program Instruksional. Tujuan Instruksional mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, dari analisis kinerja (performance analysis), dari penilaian kebutuhan (needs assessment), dari pengalaman praktis dengan kesulitan belajar pebelajar, dari analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan (Job Analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru.


2) Melakukan Analisis Instruksional (Conduct Instructional Analysis).

Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuan ke dalam ranah belajar Gagne, menentukan langkah-demi-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tujuan tersebut (mengenali keterampilan bawahan / subordinat). Langkah terakhir dalam proses analisis Instruksional adalah untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap, yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang diperlukan peserta didik untuk dapat memulai Instruksional. Peta konsep akan menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi.


3) Analisis Pembelajar dan Lingkungan (Analyze Learners and Contexts).

Langkah ini melakukan analisis pembelajar, analisis konteks di mana mereka akan belajar, dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya. Keterampilan pembelajar, pilihan, dan sikap yang telah dimiliki pembelajar akan digunakan untuk merancang strategi Instruksional.


4) Merumuskan Tujuan Performansi (Write Performance Objectives).

Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis Instruksional, akan mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk kinerja yang sukses.


5) Pengembangan Tes Acuan Patokan (Develop Assessment Instruments).

Berdasarkan tujuan performansi yang telah ditulis, langkah ini adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siwa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.

6) Pengembangan Siasat Instruksional (Develop Instructional Strategy).

Bagian-bagian siasat Instruksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar pebelajar termasuk kegiatan praInstruksional, presentasi isi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan tindak lanjut kegiatan.


7) Pengembangan atau Memilih Material Instruksional (Develop and Select Instructional Materials).

Ketika kita menggunakan istilah bahan Instruksional kita sudah termasuk segala bentuk Instruksional seperti panduan guru, modul, overhead transparansi, kaset video, komputer berbasis multimedia, dan halaman web untuk Instruksional jarak jauh. maksudnya bahan memiliki konotasi.


8) Merancang dan Melaksanakan Penilaian Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction).

Ada tiga jenis evaluasi formatif yaitu penilaian satu-satu, penilaian kelompok kecil, dan penilaian uji lapangan. Setiap jenis penilaian memberikan informasi yang berbeda bagi perancang untuk digunakan dalam meningkatkan Instruksional. Teknik serupa dapat diterapkan pada penilaian formatif terhadap bahan atau Instruksional di kelas.


9) Revisi Instruksional (Revise Instruction).

Strategi Instruksional ditinjau kembali dan akhirnya semua pertimbangan ini dimasukkan ke dalam revisi Instruksional untuk membuatnya menjadi alat Instruksional lebih efektif.


10) Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif (Design And Conduct Summative Evaluation).

Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif.

B. Model Rothwell dan Kazanas
1. Hakekat Model Rothwell dan Kazanas
Menurut Rothwell dan Kazanas, suatu pembelajaran harus dilaksanakan berdasarkan peningkatan kinerja bekerja atau profesi seseorang di lingkungan organisasi tertentu. Tentu saja apa yang harus dilaksanakan dalam pembelajaran disusun berdasarkan hasil analisis terhadap tempat bekerja, rumusan pekerjaan dan tugas serta analisis pembelajar. Dalam model ini komponen disajikan dengan menggunakan kata kerja tertentu secara konsisten.

. Kelebihan Model Rothwell dan Kazanas
  1. Keistimewaan model ini adalah komponen atau subsistem yang lengkap sehingga pembelajaran merupakan upaya optimal yang sengaja dirancang agar proses belajar berlangsung efektif.
  2. Model ini cocok digunakan untuk mendisain proses belajar di suatu organisasi dan dapat digunakan untuk program pelatihan.

4. Kekurangan Model Rothwell dan Kazanas
  1. Model ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam perumusan tahapan demi tahapannya.
  2. Sangat kompleks dan penuh detail-detail yang membuat model ini kurang diminati pendidik pada umumnya, namun sangat tepat digunakan oleh para ahli pembelajaran.
  3. Memerlukan ketelitian dan tingkat analisis yang baik, agar terhindar dari kesalahan-kesalahan fatal yang mungkin terjadi.

Contoh: Model Rothwell & Kazanas (1994)
Model materi ajar atau pengetahuan ( Content Based ), menitikberatkan bagaimana suatu topik yang menjadi bagian dari suatu materi atau mata ajaran disampaikan kepada pebelajar.
Memiliki ciri:
v  Komponen yang ada tidak banyak dan cenderung tidak lengkap
Strategi penyampaian cenderung memberikan masukan bagaimana cara menjelaskan atau menyajikan materi di kelas.
v  Kebanyakan mengacu kepada materi bersifat kognitif
v  Lingkupnya sempit
v  Tidak mencerminkan upaya pebelajar untuk menguasai kompetensi yang harus dicapai

Perbedaan Struktur Komponen Tiga Model Desain Pembelajaran
No.
Dick, Carey & Carey
Rothwell dan Kazanas
1.
Tujuan Umum Pembelajaran
Lakukan Analisis Kebutuhan
2.
Analisis Pembelajaran
Telusuri Karakteristik Pebelajar
3.
Analisis Pembelajar dan Konteks
Telusuri Aalisis Karakteristik Tempat Bekerja
4.
Tujuan Khusus
Lakukan Pekerjaan, Tugas dan Isi
5.
Perbaiki Pembelajaran
Tulis Tujuan khusus Kinerja
6.
Instrumen Asasmen
Kembangkan Pengukuran Kinerja
7.
Strategi Pembelajaran
Urutkan Tujuan Khusus Kinerja
8.
Materi Pembelajaran
Susunlah Strategi Pembelajaran
9.
Evaluasi Formatif
Rancang materi pembelajaran
10.
Evaluasi Sumatif
Evaluasi Pembelajaran

Dari Tabel diatas dapat disimpulkan persamaan dan perbedaan dari model Dick, Carey and Carey dan Model Rothwell dan Kazanas adalah sebagai berikut:
Model Pembelajaran
Persamaan
Pebedaan
Dick, Carey dan Carey
v  Sama-sama menerapkan penilaian yang mengacu pada proses belajar dan program pembelajaran itu sendiri.
v  Ditandai dengan adanya kompen evaluasi formatif, revisi pembelajaran dan evaluasi sumatif yang diterapkan.
v  Menekankan aspek revisi/ perbaiakn pembelajaran yang menyeluruh dari PBM
v  Revisi dilakukan dalam batas tugas seorang pengajar


Rothwell dan Kazanas
v  Sama-sama menerapkan penilaian yang mengacu pada proses belajar dan program pembelajaran itu sendiri.
v  Ditandai dengan adanya kompen evaluasi formatif, revisi pembelajaran dan evaluasi sumatif yang diterapkan.

v  Pembelajarannya dilaksanakan berdasarkan peningkatan kinerja bekerja atau profesi sesorang dilingkungan organisasi tertentu
v  Apa yang dilakukan dalam pembelajaran disusun berdasarkan hasil analisis terhadap tempat bekerja, rumusan pekerjaandan tugas serta analisis pebelajar.
v  Komponen pada model ini disajikan dengan menggunakan kata kata kerja tertentu secara konsisten

C.  Model Smith Dan Ragan
1.    Hakekat Model Smith dan Ragan
Model desain pembelajaran Smith dan Ragan memiliki kecendrungan terhadap implementasi teori pembelajaran kognitif. Hampir semua langkah dan prosedur dalam model pembelajaran ini difokuskan pada rancangan strategi pembelajaran. Model smith dan ragan terdiri atas beberapa langkah dan prosedur pokok.
1.    Ciri-ciri Model Smith dan Ragan
Menurut Smith dan Ragan dalam www.terangi.or.id model pembelajaran terdiri atas beberapa bagian.diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Analisis Lingkungan Pembelajaran
Analisis lingkungan pembelajaran meliputi menetapkan kebutuhan akan adanya proses pembelajaran dan lingkungan tempat terlaksananya program pembelajaran akan diimplementasikan. Tahap analisis dalam model ini digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran.
2.        Analisis karakteristik peserta
       Meliputi aktifitas dan prosedur untuk mengidentifikasi serta menentukan karakteristik peserta didik yang akan menempuh program pembelajaran yang telah di desain. Karakteristik tersebut meliputi kondisi sosial ekonomi, penguasaan isi materi pembelajaran, dan gaya belajar.
Dalam analisis karakteristik peserta memiliki tiga komponen yang dimiliki yaitu:
a.       Persamaan dan perbedaan antar siswa
b.      Garis besar karakteristik siswa
c.       Metode riset dan implikasi karakteristik siswa pada desain
3.       Analisis konteks belajar
       Analisis ini merupakan langkah yang digunakan untuk membuat deskripsi tugas-tugas yang perlu dilakukan oleh individu untuk mencapai tingkat kompetensi tertentu. Serta untuk menetapkan tujuan-tujuan pelatihan spesifik yang perlu dimiliki oleh peserta pembelajaran untuk mencapai tingkat kompetensi tersebut.
Dalam analisis konteks belajar memiliki empat komponen yang dimiliki yaitu:
a.       Waktu menganalisis kebutuhan dilakukan
b.      Menganalisis kebutuhan dengan model problem
c.       Menganalisis kebutuhan dengan model inovasi
d.      Menganalisis kebutuhan berdasarkan perbedaan
e.       Mendeskripsikan lingkungan pembelajaran 

4. Menulis butir tes
Dilakukan untuk menilai apakah program pelatihan yang dirancang dapat membantu peserta pembelajaran dalam mencapai kompetensi atau tujuan yang telah ditetapkan. Butiran-butiran tes yang ditulis harus bersifat valid atau variabel agar dapat digunakan untuk menilai kemampuan atau kompetensi peserta pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.

5.        Menentukan strategi pembelajaran
Menentukan strategi pelatihan untuk mengelola program pembelajaran yang didesain agar dapat membantu peserta pembelajaran dalam proses belajar. Dalam konteks ini dapat diartikan sebagai siasat yang perlu dilakukan pendidik agar dapat membantu peserta pembelajar dalam mencapai hasil yang optimal. Contoh penggunaan strategi pelatihan adalah menentukan urutan penyampaian materi pembelajaran. Dalam menyampaikan materi pelatihan, pendidik dapat menggunakan pendekatan deduktif atau induktif.
6.        Memproduksi program
Memproduksi program pelatihan memiliki makna adanya proses atau aktifitas dalam menerjemah desain proses pembelajaran yang telah dibuat kedalam bahan ajar atau program pembelajaran. Program pembelajaran merupakan output dari desain sistem pelatihan yang mencapai deskripsi tentang kompetensi atau tujuan, metode, media, strategi dan isi atau materi pelatihan dan evaluasi hasil pembelajaran.
7.        Melaksanakan evaluasi formatif
Melakukan evaluasi formatif untuk menemukan kelemahan-kelemahan dari draf bahan ajar yang telah dibuat untuk segera direvisi agar menjadi program pelatihan yang efektif, efisien, dan menarik. Evaluasi formatif pada umumnya dilakukan pada prototipe program pembelajaran yang sedang dikembangkan.
8.        Merevisi program
Merevisi program pembelajaran dilakukan terhadap kelemahan-kelemahan yang masih terlihat pada rancangan-rancangan atau draf program pembelajaran. Dengan melakukan revisi, maka program pembelajaran tersebut dapat menjadi program pembelajaran yang berkualitas

 D.        Hakekat Model KTSP


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan model kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini lahir seturut dengan tuntutan perkembangan yang menghendaki desentralisasi, otonomi, fleksibilitas, dan keluwesan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengalaman selama ini dengan sistem pendidikan yang sentralistik telah menimbulkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pusat sehingga kemandirian dan kreativitas sekolah tidak tumbuh. Dalam pada itu pendidikan pun cenderung mencerabut siswa-siswi dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan baru berupa desentralisasi yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk mengelolah sekolah. Menurut Slamet (2005:3) Desentralisasi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan dan kinerja pendidikan, baik pemerataan, kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Selain itu desentralisai juga dimaksudkan untuk mengurangi beban pemerintah pusat yang berlebihan, mengurangi kemacetan-kemacetan jalur-jalur komunikasi, meningkatkan (kemandirian, demokrasi, daya tanggap, akuntabilitas, kreativitas, inovasi, prakarsa), dan meningkatkan pemberdayaan dalam pengelolaan dan kepemimpinan pendidikan. Mengacu kepada pendapat Slamet, ada dua kepentingan besar dari desentralisasi pendidikan, pertama, untuk meningkatkan kinerja pendidikan. Kedua, mengurangi beban pusat, sebab dikhawatirkan jika pusat terus dibebani tanggung jawab pengelolaan pendidikan, maka mutu pendidikan akan terus melorot.

Menurut www.wikipedia.or.id Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. KTSP mulai diterapkan disekolah-sekolah pada tahun 2007/2008 dengan mengacu pada standar isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL). Adi KTSP merupakan kurikulum operasional yang yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Pengembangan satuan pendidikan dilakukan olh masing-masing kelompok atau satuan pendidikan ditempat pendidikan itu sendiri berlangsung.

2. Komponen Model KTSP

http://techonly13.wordpress.com/2009/07/03/komponen-ktsp/ KTSP memiliki bagian komponen yang mendukung didalamnya antara lain adalah:

1. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan

2. Struktur dan muatan

3. Kalender pendidikan

4. Silabus

5. RPP


Struktur dan muatan dalam KTSP adalah sebgai berikut:

1. Mata Pelajaran

2. Muatan Lokal

3. Kegiatan Pengembangan diri

4. Pengaturan beban belajar

5. Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan

6. Pendidikan kecakapan hidup

7. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global


3. Kelebihan

Setiap bentuk model yang digunakan selalu memiliki kelbihan disebagian sisi penerapannya begitu juga dengan model KTSP. Model KTSP memiliki beberapa kelebihan yang dimiliki. Seperti menurut Surya Hanafi (2011) kelebihan KTSP dibandingkan model yang lain adalah KTSP dapat mendorong otonomi penyelenggaraan pendidikan oleh sekolah.

4. Kekurangan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan diharuskan dapat memenuhi standar nasional pendidikan. Walaupun dikembangkan sendiri oleh masing-masing sekolah sesuai dengan karakteristik, dan kebutuhan sekolah namun harus mengacu pada standar isi yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. Menurut Panduan penyusunan KTSP, Standar Isi (SI) mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah: kerangka dasar dan struktur kurikulum, standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.

Pemahaman yang dapat dibangun dari rumusan panduan di atas adalah, antara standar isi dan standar kelulusan jelas memiliki korelasi, bahwa standar isi memberikan arahan bagi pengembangan silabus di tingkat sekolah yang selanjutnya diharapkan dapat mencapai standar kompetensi lulusan. Persoalannya adalah, apakah antara pengembangan silabus dan standar kompetensi lulusan juga masih memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi. Sebab, bukankah dengan menyerahkan kewenangan kepada sekolah untuk mengembangkan silabusnya sendiri merupakan sebuah mekanisme yang justru meninggalkan lubang menganga.

Persoalan semakin intens ketika pemerintah masih menggunakan Ujian Nasional (UN) sebagai alat satu-satunya untuk mengukur kompetensi lulusan. Padahal mekanisme ini sendiri masih belum sesuai dengan aturan. Sebagaimana dinyatakan dalam ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), "Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran

b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan

c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi

d. lulus Ujian Nasional

e. Merujuk pada aturan di atas, maka dari segi implementasi, belum sesuai dengan aturan, yang mana hanya menggunakan UN sebagai patokan dalam menentukan kelulusan siswa. Pada pihak lain masih pasal yang sama ayat (2), "Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri". Di sini nampak belum konsistennya pemerintah, pada satu sisi menyerahkan tanggungjawab kepada pihak sekolah, tetapi pada pihak yang lain pemerintah ikut menentukan kelulusan. Pertanyaannya adalah apakah antara standar kelulusan yang ditentukan pihak pemerintah (BSNP) realistis dengan proses pembelajaran yang berlangsung di masing-masing sekolah di seluruh Indonesia. Apakah dari segi standar isi (SI) telah dipenuhi oleh seluruh sekolah di Indonesia sehingga dalam hal standar kelulusan pun (melalui UN) diberlakukan sama.




DAFTAR RUJUKAN

Dewi Salma Prawiradilaga. 2008. Prinsip Disain Pembelajaran (Instructional Design Principles). Jakarta : Predana Media Group

Dick, W; Carey, L. & Carey, J. O. 2005. The Systematic Design of Instruction. Illinois, Glenview: Scott, Foresman and Company.

Smith, P. L. & Ragan T. J. 2005. Instructional Design. 3th ed. Oklahoma: John Wiley & Sons, Inc.

Surya Hanafi. 2011. Kurikulum KTSP Dan Implementasinya. http://sahabatguru.wordpress.com . Di Akses: Jumat, 11 Mei 2012


www.wikipedia.co.id . Di Akses: Jumat, 11 Mei 2012

www.terangi.or.id . Di Akses: Jumat, 11 Mei 2012

















2 comments:

  1. thanks.... ka, pengetahuan yang membantu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya sama-sama,,,selagi bermanfaat dan berbagi pengetahuan, semoga mendapat pencerahan :)

      Delete